H-7 menjelang lebaran, tinggal kurang dari satu minggu lagi hingga kita menyambut hari besar ini. Untuk kaum hawa, penampilan, gaya, serta pakaian merupakan aspek penting ketika idul fitri datang. Biasanya ini menjadi kesempatan untuk beradu style. Namun, kami para wanita menikmati momen itu; kami merasa lebih percaya diri ketika memakai busana yang menurut kami cocok.

Bagi saya pribadi, saya kurang begitu menekankan pada penampilan busana pada hari kedua dan ketiga. Sementara itu, kami sekeluarga lebih banyak berkonsentrasi dalam merencanakan pakaian Lebaran untuk hari pertama. Sebab, selagi liburan Idul Fitri tersebut dilalui di Tanah Melayu, Riau, keluargaku bersatu padu menyepakati bahwa tema kostum Lebaran pada hari pertama haruslah seragam baju Melayu namun ini hanya diberlakukan bagi para anggota cowok dari keluarga kami, yakni dua saudara laki-laki serta sang Ayah. Di sisi lain, wanita dalam keluarga termasuk Ibuku dan diriku, akan menggunakan kebaya sesuai arahan beliau. Keputusan ini telah disahkan oleh Ibu. Akan tetapi, aku juga berkolaborasi dengan Beliau dalam menciptakan baju Melayu yang nantinya bakal dikombinasikan dengan songket. Oleh karena itu, baikku maupun Ibu mendapatkan dua buah atasan dan satu jenis rok atau bawahan bernama songket. Berbeda halnya dengan saudara-saudaraku yang masih laki-laki; mereka cuma butuh satu set lengkap baju tradisional Melayunya saja.

Kami tidak memilih pakaian siap pakai, melainkan kami beli kainnya lebih dulu dan kemudian serahkan kepada tukang menjahit. Ibuku telah mengatur semuanya jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba, khawatir tempat tersebut akan dipenuhi banyak orang.


Ibu saya memberikan tanggung jawab kepada saya untuk memilih baju Melayu, sehingga saat berada di Jogja, saya sempatkan waktu untuk mencari kain terlebih dulu. Sudah lebih dari lima toko yang saya kunjungi namun tak satupun cocok seperti harapan ibu saya. Ia ingin baju dengan bahan khas Melayu dan berwarna hijau sage. Tentunya hal itu menjadi tantangan tersendiri di Tanah Jawa dimana sulit sekali menemui kain dengan jenis dan warna tersebut dikarenakan perbedaan dalam aspek budaya.
Namun setelah berjam-jam mencari, pada akhirnya saya berhasil menemukan kain sesuai permintaan ibu. Sayangnya jumlahnya kurang untuk membuat pakaian bagi dua orang; hanya cukup untuk satu saja. Kemudian saya mulai pencarian lagi sampai akhirnya menemukannya juga. Setelah dapat, saya langsung membelinya kemudian tanyakan serta mintalah saran tentang tempat menjahit baju yang baik di daerah Jogja. Sebagai mahasiswa baru disini, saya masih agak awam soal lokasi-lokasi spesifik di Jogja.

Setelah melaksanakan survey menggunakan kartu nama yang diberikan kasir ketika saya belanja bahan kemarin, saya memilih untuk menyerahkan pembuatan pakaian lebaran Melayu saya kepada The Kebaya, merek penjahit di Babarsari. Toko mereka juga menyewakan kebaya! Jadi, saya tertarik untuk menyewa kebaya di sana pada masa kelulusan nantinya.

Saya membawa kain tersebut ke sana dan langsung melaksanakan pengukuran tubuh. Prosesnya tampak cukup membutuhkan waktu, hingga lebih dari satu bulan pakaianku belum juga terselesaikan. Namun saat diberi tahu untuk mencoba pakaiannya, saya benar-benar menyukai hasil jahitan mereka; sungguh rapi. Saya sempat minta agar ukurannya sedikit dibuat lebih kecil. Sebelum itu, saya bertanya pada Tazkia, sahabat yang mendampingiku selama proses penyesuaian, “Menurut Teh ini akan terlihat baik jika kita buat sedikit lebih kecil atau sudah seperti ini saja?” Tazkia merespons, “Secara umum desainnya sudah oke, namun jika kamu ingin membuatnya sedikit lebih pas di tubuhmu tidak apa-apa.”

Tak berapa lama, pakaian Melayu saya telah jadi seperti permintaan saya sebelumnya. Saya pun segera menyelesaikan pembayarannya karena sangat puas dengan hasil akhir yang cocok dengan keinginan saya.

Terkait pembuatan kebaya, saya cukup yakin dengan kemampuan ibu penjahit di Dumai, karena saat acara perpisahan, saya menyerahkan penggarapannya padanya dan hasilnya sangat baik. Hal ini tak lepas dari pemilihan kain yang saya lakukan sendiri. Namun, setelah menerima kebaya buatan tersebut, ada sesuatu yang terasa kurang pas; tampaknya saya telah membuat kesalahan dalam memilih desain kebaya karena jenis kainnya nampaknya tidak cocok untuk dipotong dan dijahit menjadi model seperti itu.

Pelajaran pentingnya adalah, sebelum memberikan kain kepada penjahit, kita perlu memeriksa terlebih dahulu apabila kain yang dikehendaki sesuai dengan gaya model yang dinginkan.

Namun, saya tetap dapat menemukan solusinya. Saya rasa hasilnya sangat baik dan sejalan dengan gambar yang telah saya berikan, meskipun saya keliru dalam pemilihan model. Tetapi setelah melihat semuanya bersama-sama, saya merasa ini adalah pilihan yang tepat. Bahkan teman-temanku juga menyampaikan pandangan serupa saat aku memintakan nasihat kepada mereka.

Saat sampai di Dumai, akhirnya saya bisa melihat langsung dua gaya pakaian lebaran yang telah dipersiapkan, yaitu kebaya dan melayu. Saya sangat menyukai gaun melayu tersebut. Namun, kebaya pun tak kalah mempesona. Rencannya, saya akan mengecilkan sedikit ukuran kebaya karena masih terlihat longgar pada diri saya ini. Hal itu terjadi lantaran pengukuran tubuh dilakukan ketika berada di Jogja, menjadikan tingkat pasti ukuran agak kabur.

Setelah mengatasi semua persoalan pakaian dan model busana, tugas selanjutnya adalah mencari penutup kepala yang sesuai dengan nada warna gaun yang telah kamijahit. Saya sendiri sudah memesan kerudung secara daring untuk digunakan saat Lebaran namun tampaknya tidak cocok ketika dipadankan bersama kebaya; kombinasinya agak kontras dalam hal pewarnaannya. Bahkan ibuku juga berkeliling pasar tanpa hasil karena sulit mendapatkan corak atau nuansa tertentu dari kerudung tersebut. Warna seperti hijau sage ini cukup langka. Kami sepakat akan meluangkan waktu kembali nanti apabila ada kesempatan kosong demi mengejar item fashion yang tepat itu.

Beruntunglah pakaian Melayu yang saya pilh dan buat di Jogja tersebut sangat cocok dengan corak kain songket yang disulam oleh ibu saya di Dumai. Hal ini seolah menjadi perlawanan, karena kebaya dibuat di Tanah Melayu sementara baju Melayunya malah dibikin di Tanah Jawa.

Saya rasa menggunakan busana tradisional lokal, contohnya kebaya dan baju kurung Melayu untuk pakaian lebaran bersama seluruh anggota keluarga merupakan ide yang sangat baik. Hal ini akan mencerminkan betapa serasi dan mengagumkannya tampilan keluarga Anda.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama