Pernah gak sih, pas puasa tiba-tiba ngerasa lebih sensitif? Hal kecil aja bisa bikin naik darah. Ada yang menyerobot antrian di jalan, langsung bawaannya pengen ngomel. Saudara atau teman iseng dikit, rasanya pengen ngegas. Bahkan hal sepele kayak suara kunyah orang bisa bikin emosi naik.

Meskipun demikian, Ramadan terkenal dengan sifatnya yang menuntut kesabaran, ketenangan, dan kendali diri. Namun mengapa, malahan banyak orang merasa bahwa emosi mereka menjadi lebih mudah tersulut?

ternyata, terdapat berbagai alasannya secara ilmiah dan psikologis yang membuat kita cenderung lebih mudah tersinggung ketika sedang berpuasa. Mari kita bahas hal tersebut dengan lengkap agar bulan Ramadhan tahun ini dapat dilalui dengan tenang dan penuh kesadaran diri!

1. Ubah Kebiasaan Makanan dan Tingkat Glukosa dalam Darah

Pada saat berpuasa, tubuh kita tak mengonsumsi makanan atau minum apapun dalam waktu lama. Hal ini dapat menyebabkan tingkat glukosa darah menurun secara signifikan, sehingga membuat kita menjadi mudah merasa letih, kepala terasa pusing, serta cepat tersinggung!

Di bidang psikologi, fenomena tersebut dikenal sebagai hangry (campuran antara hungry atau lapar dengan angry atau marah). Hal ini muncul ketika otak tidak mendapatkan cukup energi dari glukosa dalam darah, sehingga berdampak pada mood serta tingkat kesabarannya.

Solusi:

Pastikan untuk makan sahur dengan asupan yang sehat dan teratur, mengandung protein serta serat agar rasa kenyang bertahan lebih lama. Hindari konsumsi camilan manis secara berlebihan pada waktu sahur karena dapat menyebabkan kadar glukosa dalam darah meningkat kemudian menurun dengan cepat.

2. Kekurangan Istirahat dan Keletihan

Waktu tidur kami secara alami berubah saat bulan Ramadhan. Kita perlu bangun untuk sahur, kemudian tidurnya menjadi lebih siang karena shalat tarawih, ditambah dengan beban kerja atau kegiatan lain yang masih cukup padat. Hal ini menyebabkan tubuh tidak mendapatkan cukup waktu istirahat, sehingga membuat kita cenderung lebih mudah terpengaruh oleh emosi.

Penelitian menyatakan bahwa kurang tidur dapat membuat amigdala (sebuah bagian di otak yang bertanggung jawab atas emosi) menjadi lebih peka. Sehingga, ini membuat kita cenderung merespons berlebihan terhadap sesuatu yang umumnya tidak begitu penting.

Solusi:

Usahakan untuk menata jam istirahatmu dengan tepat, seperti tidur lebih cepat pada malam harinya atau coba lakukan short nap di siang hari. Hindari kebiasaan begadang agar badan selalu bugar dan tidak mudah tersinggung ya.

3. Sedikit Kopi untuk Penggemar Kopi Sehari-hari

Bagi penggemar kopi, bulan Ramadhan dapat menjadi suatu tantangan tambahan. Rutinitas minum secangkir kopi di awal hari harus ditunda hingga waktu berbuka puasa tiba. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan penarikan kafein!

Hal ini dapat mengakibatkan sakit kepala, keletihan, dan perubahan suasana hati yang membuat kita cenderung mudah tersinggung.

Solusi:

Jika Anda pecandu kopi kuat, cobalah mengurangi asupan kafein secara bertahap sebelum bulan Ramadhan tiba. Ketika waktu berbuka puasa, hindari langsung meminum kopi agar perut tidak terganggu. Tunda hingga setelah menikmati hidangan pembuka tersebut.

4. Perubahan Pola Hidup dan Penambahan Stres

Ramadan membawa sejumlah besar perubahan ke dalam rutinitas harian kami: pola makannya terganggu, ritual do'a meningkat, sementara tanggung jawab kerja dan sekolah masih harus dijalani. Kesemuanya dapat menjadi penyebab stres tanpa disadarinya.

Belum termasuk tekanan sosial untuk "meningkatkan diri" saat puasa Ramadhan. Sepertinya kita dituntut untuk senantiasa sabar, melaksanakan ibadah dengan tekun, serta terus berprestasi. Jika ada beberapa waktu ketika performa kita kurang optimal, hal tersebut dapat menghasilkan rasa bersalah atau beban psikologis ekstra.

Solusi:

Jangan memaksa dirimu terlalu ketat. Bulan Ramadhan tak mengenai mencapai sempurna, melainkan tentang pertumbuhan. Luangkan waktu untuk bersantai dan merenung, bisa jadi dengan menulis diari atau cukup duduk dalam kedamaian sebelum sahur membuka puasa.

5. Kurangnya Me-Time

Pada bulan Ramadhan, kita cenderung lebih menekankan pada aktivitas dengan keluarga atau masyarakat. Meskipun ini adalah sesuatu yang positif, namun beberapa individu dapat merasa terbebani akibat minimnya waktu pribadi untuk mengisi ulang energi mereka.

Untuk orang-orang Introvert atau mereka yang perlu waktu seorang diri untuk mengolah perasaan, kekurangan "me-time" dapat membuat mereka menjadi lebih sensitif secara emosional.

Solusi:

Ambil sedikit waktu untuk dirimu sendiri, bisa dengan membaca buku, mencatat jurnal, atau hanya duduk tenang selama beberapa menit sebelum berbuka puasa. Jika perlu, tetapkanlah batas jika kamu membutuhkan ruang pribadi meski dalam kepadatan bulan Ramadhan ini.

Ramadhan Seharusnya Menyebabkan Ketenangan, Bukan Malah Kesedihan

Jika selama Ramadhan membuat kita lebih cepat tersulut emosi, itu tidak berarti bahwa kita gagal dalam menunaikan ibadah. Malahan, hal tersebut dapat menjadi petunjuk untuk meningkatkan kesadaran diri serta mempelajari bagaimana mengendalikan perasaan dengan lebih efektif.

Ingat:

Pertahankan kebiasaan makanan dan istirahat yang sehat agar kondisi fisik selalu prima.

Jangan begitu keras pada dirimu sendiri, Ramadan hanyalah sebuah proses.

Berikan waktu untuk menikmati saat pribadi dan beristirahat.

Sebab Ramadan tidak hanya tentang berpuasa dari makanan dan minuman, tetapi juga tentang meredam hati dan pikiran. Mari kita lakukan dengan lebih sadar diri!

Hei, apakah Anda pernah mengalami Ramadan yang membuat mudah tersinggung? Ceritakan pengalamannya di bagian komentar!

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama