Saya tidak mengerti alasannya tetapi pada hari tersebut saya memutuskan untuk menggunakan bus dari Bekasi ke Blok M. Umumnya, saya lebih senang naik ojek atau setidaknya kendaraan umum seperti angkutan kota meski kadang merasa kesal karena sopirnya sering mencari-cari penumpang. Namun pada saat itu, tanpa alasan spesifik, saya memilih naik bus ekonomi. Bus dengan tempat duduk yang keras, pendingin udaranya rusak, serta jendelanya sulit dikunci sempurna. Saya menempati posisi di baris kedua tepat di samping jendela dan berdo'a semoga tidak ada orang lain yang menduduki bangku di sebelah saya.

Namun, kemudian ada orang lain yang naik. Dia memiliki rambut abu-abu, mata jernih, dan wajahnya... unik! Tidak unik karena mengintimidasi. Justru sebaliknya,unik karena terlalu tenang bagi sebuah dunia yang penuh kebisingan.

Dia duduk di sebelah saya. Tidak membawa apapun selain kantong kecil yang berisikan potongan roti dan sebuah botol air mineral.

Kami terdiam untuk waktu yang lama. Hingga pada akhirnya dia memulai pembicaraan: "Kamu sering kali merasa letih, bukan?"

Saya berbalik dengan sedikit kebingungan. "Bisa dijelaskan lebih lanjut, Pak?"

Dia mengulum senyum tipis sambil berucap, "Lelah menjadi manusia. Lelah untuk bersosialisasi. Lelah merawat lukanya sendiri yang tidak dapat diceritakan."

Saya tersenyum kecil. "Wah, Bapak paranormal, ya?"

Tidak. Saya hanya duduk disamping Anda.

Saya memandanginya dengan lebih lama. "Siapa sebenarnya bapak itu?"

Dia tidak memberikan respons. Namun, tatapannya tidak mengharapkan apapun. Tidak peduli untuk dipahami. Dia hanya ada disana.

Kemudian saya berkata perlahan, dengan ragu-ragu: "Jika... hanya untuk berpikir saja lho... jika Bapak adalah Tuhan yang duduk disampingku, apakah Ia akan mengatakannya juga?"

Dia memandangku. "Mengapa kau bertanya seperti itu?"

Aku merasa lelah," ujarku. "Sementara itu, tidak ada yang bisa kuberi tahu tanpa khawatir akan dihakimi.

Dia membukakan roti sobek miliknya. Memotong menjadi dua bagian dan menyodorkan separuh padaku.

Bila Allah duduk di sampingmu, Ia takkan menegur kamu. Mungkin pun Ia tidak akan merespon pertanyaan yang kamu ajukan. Akan tetapi, Ia bakal berdiam diri. Mengikuti ceritamu. Lalu bagi-bagikan rezekinya.

Saya mencubit rotinya. Rasaannya normal saja. Namun, kerongkongan saya seolah menelantarkan benda yang melebihi sekedar roti. Tanpa alasan yang jelas, mata saya merasa perih.

"Maka, bisakah kau berpura-pura bahwa Tuhan ada disebarku hari ini?" sahutku dengan lembut.

Dia tak merespons. Namun, tangannya memperkusi bahuku sebentar. Setelah itu, kita kembali terdiam.

Di luar, angin menusuk wajah. Bus bergerak mengikuti irama khas: terhenti, bergoyang, kemudian menerjang di jalanan yang kurang sempurna datarnya. Di dalam, ada dua insan asing yang saling merasa dekat meski jarang bertemu.

Dan anehnya, untuk kali pertama dalam waktu yang lama, aku jadi tak mau tiba dengan cepat.

Patas tanpa pendingin udara - Bekasi-Blok M, 1996

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama