BENGKULU, - Pulau Enggano, suatu daerah pesisir perbatasan di Laut Hindia yang berada di Provinsi Bengkulu, menghadapi risiko isolasi karena dangkalnya saluran Pelabuhan Pulau Baai mulai Januari 2025.

Keadaan ini mengakibatkan Kapal Feri Pulo Telo yang bertugas dalam pengiriman penumpang, bahan bakar minyak (BBM), serta barang-barang kebutuhan pokok sepertisembako ke kepulauan itu terpaksa dihentikan sepenuhnya, demikian pula sebaliknya.

Kerusakan semakin memburuk dalam minggu ini karena Kapal Feri Pulo Telo tidak dapat meninggalkan area dermal di Pulau Baai lantaran adanya endapan pasir yang merembes ke pelabuhan.

Amli Kaitora, salah satu penduduk Pulau Enggano, menyatakan bahwa Kapal Feri Pulo Telo yang selama seminggu ini digunakan untuk transportasi barang dan penumpang tidak dapat operasional karena adanya pengendapan pasir yang signifikan di area pelabuhan.

"Ferinya diharapkan sudah mulai melayani transportasi penumpang sekitar satu minggu yang lalu, tetapi ketika para penumpang telah bersiap untuk keberangkatan, kapal tersebut tak dapat melaut karena kedalaman lorong pelabuhan yang kurang memadai," jelas Amli dalam percakapan dengan , pada hari Sabtu, 29 Maret 2025.

Karena penundaan keberangkatannya, ribuan penduduk Pulau Enggano yang berencana pulang kampung terdampar di dermaga selama beberapa hari belakangan.

"Para warga yang ingin pulang ke kampung halaman menjadi terlunta-lunta di Kota Bengkulu dan tak mengetahui kapan kapal dapat berlayar," jelasnya.

Amli khawatir bahwa jika dalam waktu satu bulan proyek pengerukan saluran dangkal belum juga dilakukan, pulau Enggano berisiko terisolasi dan kehilangan suplai barang-barang penting termasuk bahan bakar minyak.

"Kami tetap merasa beruntung karena satu minggu yang lalu kapal berhasil mengantarkan bahan bakar minyak dari Pertamina serta barang keperluan dasar. Pada saat itu, kapal masih dapat meninggalkan dermaga dengan melakukan gerakan meliuk-meliuk untuk mengeluhkan pendistribusian pasir. Namun kini kondisi pengendapan pasir menjadi lebih buruk," jelasnya.

Menurutnya, daya tahan masyarakat di Pulau Enggano terhadap kenaikan harga BBM dan barang kebutuhan dasar hanya mencapai puncak sekitar 1,5 bulan.

"Bila tidak ada kapal yang dapat berlayar selama lebih dari 1,5 bulan, maka dapat dipastikan penduduk Pulau Enggano akan menghadapi isolasi akibat kekurangan bahan bakar minyak dan barang-barang kebutuhan dasar," katanya.

Di luar ancaman krisis minyak bensin dan kebutuhan pokok, produk alam dari Pulau Enggano seperti jengkol, pisang, ikan, dll., mengalami penumpukan, pembusukan, hingga kerusakan, hal ini dapat mempengaruhi kerugian ekonomi masyarakat setempat.

"Buah-buahan dan hasil dari lautan serta jengkol, pisang, dan ikan tidak dapat dipindahkan, hanya akan busuk dengan percuma," keluhnya.

Dia ingin pemerintah menerbitkan keadaan darurat sehingga masalah tersebut bisa diatasi.

Sejak awal tahun

Pada saat bersamaan, Kepala Supervisi PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) di Bengkulu, Radmiadi, mengakui bahwa kedalaman lorong pelabuhan telah berkurang sebagaimana diketahui sejak Januari 2025.

"Kerusakan jalur masuk ke pelabuhan telah terjadi sejak Januari 2025 saat kapal feri Pulo Telo dengan panjang 16 meter menghadapi kesulitan untuk meninggalkan dermaga. Kemudian di bulan Maret, kapal pengangkut tidak mampu melakukan pelayaran sama sekali," jelasnya.

Dia mengatakan bahwa perjalanan laut terhentikan sepenuhnya karena endapan pasir.

Di bulan lalu, kapal masih dapat melaju secara bergelombang untuk meninggalkan dermaga, tetapi pada waktu air naik, hal itu tak lagi mungkin terjadi karena bagian kanan jalurnya akan menabrak bebatuan sementara sisinya kiri bakal merembet ke pasir.

"Saat beberapa hari yang lalu, terdapat sebuah kapal yang mengalami kemacetan di sisi kiri jalur pelabuhan akibat mencoba bergerak bolak-balik, meskipun dimensi lebar kapal tersebut lebih sempit dibandingkan dengan Pulo Telo," jelasnya.

Berbagai percobaan yang dilakukan untuk mengeluarkan kapal dari jalurnya di pelabuhan seringkali tidak berhasil. Karena itu pula, Kapal Feri Pulo Telo memutuskan untuk berhenti beroperasi.

"Saya prihatin atas keadaan warga di Pulau Enggano yang sulit untuk dilayani, terutama menjelang Idul Fitri seperti sekarang. Namun beruntung minggu lalu kita masih dapat mengantarkan bahan bakar minyak dan barang-barang kebutuhan dasar," jelasnya.

Penyusutan jalurnya di Pulau Baai, menurut dia, bukan hanya mempengaruhi layanan menuju Pulau Enggano.

Lautnya transportasi, barang-barang yang datang dan pergi dari Bengkulu pun ikut berhenti.

"Kapal bahan bakar milik Pertamina tak dapat memasuki dermaga untuk keperluan Bengkulu, sehingga saat ini pasokannya sepenuhnya melalui jalur darat. Sama halnya dengan pengiriman ekspor batu bara, produk-produk lain serta minyak kelapa sawit mengalami gangguan," katanya demikian.

Lapor ke presiden

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, melalui siaran langsung di aplikasi TikTok pada hari Jumat (29/3/2025), menyampaikan bahwa pihaknya telah mendapatkan keluhan dari sejumlah lapisan masyarakat tentang masalah kedalaman lorong pelabuhan, bahkan juga ada protes dari penduduk Pulau Enggano.

Dia menyebut bahwa mengenai keluhan tersebut, dia sudah memberikan instruksi kepada Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah untuk merancang surat tentang penetapan status darurat bagi Pulau Enggano.

Surat itu akan dikirimkan kepada pemerintahan nasional.

Gubernur telah menginstruksikan Penjabat Sekretaris Daerah untuk menyusun surat darurat terkait Pulau Enggano. Kemudian, dokumen tersebut akan dikirim kepada pemerintahan nasional guna melaksanakan tindakan-tindakan segera, demikian penjelasannya dalam siaran langsung TikTok-nya.

Gubernur menambahkan bahwa baik pemerintah pusat maupun provinsi berencana untuk memulihkan Pelabuhan Pulau Baai pada bulan April tahun 2025, di antaranya dengan segera melaksanakan pengeboran saluran pelabuhan yang menghambat lalu lintas maritim.

Pemerintah nasional mengalokasikan dana sebesar satu triliun rupiah guna memfasilitasi pengembangan kembali Pelabuhan Pulau Baai di Bengkulu.

Proyek tersebut melibatkan kegiatan pengerukan di gerbang masuk pelabuhan, yang dipandang sangat penting untuk meningkatkan ekspor dari Provinsi Bengkulu.

Dia menyebutkan bahwa pemerintah provinsi sedang mempersiapkan peraturan dan segi teknis bersama dengan PT Pelindo Bengkulu, KSOP Bengkulu, serta Forkopimda Provinsi Bengkulu.

Sebelum memasuki fase awal dari revitalisasi yang berlangsung tahun 2025, semua elemen hukum, keuangan, serta fasilitas penunjang lainnya perlu disiapkan dengan baik.

Saya dan GM Pelindo secara langsung melaporkan kondisi tersebut kepada Presiden Prabowo. Untungnya, presiden kami sangat baik hati; beliau memberikan persetujuan untuk alokasi dana sebesar Rp 1 triliun guna memperbaharuhi pelabuhan Pulau Baai, " ungkapnya.

Pulau Enggano adalah bagian paling luar dari Provinsi Bengkulu yang terletak di Samudera Hindia dan termasuk dalam kabupaten Bengkulu Utara.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, populasi di Pulau Enggano mencapai 4.112 orang.

Post a Comment

أحدث أقدم