Oleh: Viktus Murin*

" Di pagi tanggal 8 Oktober 1995, kakak saya Niko dan saya melakukan pelantikan bagi Anggota Baru GMNI setelah disahkan lewat PPAB. Saya masih mengingat dengan jelas bahwa salah satu dari calon-calon yang dilantik adalah seorang mahasiswa bernama Raymundus Sau Fernandes. Dia nanti akan menjabat sebagai Bupati Timor Tengah Utara (TTU) untuk masa jabatan kedua berturut-turut.

Kutipan tersebut saya ambil kembali dari teks yang terlihat pada laman Pos Kupang, sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum Niko Frans (dahulu pernah menjadi Ketua GMNI Kupang), dengan judul seperti itu:

Potongan-potongan kenangan bersama Kak Niko; dari Bali sampai Manado, ditandai dengan tanggal 6 Juni 2024. Hal ini menunjukkan bahwa baru sekitar sembilan bulan telah berjalan, dan kita masih harus menunggu tiga bulan lagi untuk mencapai titik setahun semenjak pergiya Kak Niko.

Ahhh, pada saat ini, perasaan saya sangat pilu akibat derita yang datang bersama kesedihan lagi. Kesedihan yang dirasakan oleh seluruh anggota GMNI se-NTT, setelah saudaraku dari almamater GMNI Kupang, yaitu Pak Raymundus Sau Fernandes, Bupati Timor Tengah Utara (TTU) dalam dua masa jabatan (2010-2015 dan 2016-2021), menghadap sang Khalik.

Selama sepuluh tahun menjabat sebagai Bupati TTU, kebiasaan saya adalah menyebutnya dengan sebutan "Ade Bupati Ray".

Istilah Ade mengacu pada perasaan kekeluargaan; seperti saudara kandung dalam keluarga besar GMNI di NTT, sementara gelar Bupati menunjukkan penghargaan atau rasa hormat saya terhadap capaian kemampuan memimpin yang sudah dicapainya.

Sering kali pula saya memberikan gelaran serupa kepada saudara-saudari alumnus GMNI lain berdasarkan tugas yang tengah mereka jalankan, seperti contohnya: "Ade Legislator", "Ade Komisioner", "Ade Birokrat", "Ade Dosen", "Ade Guru", "Ade Seniman", dll.

Berkembalilah ke saat itu, 8 Oktober 1995, di kantor GMNI, jalan Anggur, bagian belakang kompleks Margasiswa PMKRI Kupang.

Setelah menjalani pagi bersama-sama, Bung Niko Frans sebagai Ketua DPC GMNI Kupang dan saya sebagai Sekretaris DPC melakukan prosesi pelantikan bagi para anggota baru GMNI pada malam hari tersebut. Segera setelah itu, saya terbang menuju Jakarta (ditemani oleh tiga teman lain yang juga merupakan 'pengundur diri dini' dari Pos Kupang), untuk meneruskan perjalanan karir jurnalisanku di lautan besar ibukota jakarta, lebih spesifik lagi dalam lingkungan redaksi Koran Berita Yudha.

Dari kurang lebih 100 anggota baru yang diresmikan, sampai sekarang saya masih mengingat beberapa nama dan juga wajah mereka yaitu Raymundus Sau Fernandes, Yoppy Lati (yang kini menjadi jurnalis untuk Timor Express), serta Ekachaty Lily Adoe (sekarang legislator dari NTT).

Maria Margaretha Bhubhu (sekarang aktivis untuk masalah wanita dan pelindungan anak), Thesa Rato (gurunya SMAK Regina Pacis Bajawa), serta Martinus Kapitan Murin (saudara laki-lakiku sendiri, sekarang PNS di Kabupaten Lembata).

Saya tahu keenam nama tersebut, tapi bukan berarti saya melupakan keberadaan anggota baru lainnya dari kelas 1995 itu.

Saya masih menganggap semuanya sebagai "adik sendiri" tanpa terkecuali.

Maknanya adalah pada waktu apapun ketika mereka benar-benar memerlukan nasihat, arahan, maupun dorongan dalam mengambil tindakan ataupun semangat hidup, saya akan senantiasa menyiapkan tempat yang luas di sudut hati untuk semua orang tersebut.

Mengingat versi beta dari lima nama anggota baru itu, sebab memori versi beta menunjukkan bahwa selama proses penyiapan kandidat anggota baru GMNI Kupang tahun 1995, keempat individu ini terbilang aktif ketika menyampaikan pendapat atau menukar ide.

Mereka pun sangat aktif dalam berinteraksi saat periode PPAB (Pekan Penerimaan Anggota Baru) dan kadang-kadang mengkritisi kesalahan yang dilakukan oleh tim penyelenggara PPAB.

Berdasarkan pengetahuan yang pernah saya dapati, ketiganya yaitu Ray, Yoppy, dan Martin sangat dekat dalam lingkaran pertemanannya.

Semua tiga memiliki kebiasaan saling bercanda dengan humor yang kuat dan cenderung kasar (dalam skala lucu berlebihan khas penduduk Nusa Tenggara Timur).

Jika dinyatakan dalam idiom bahasa Kupang, gaya bercanda ketiganya benar-benar "su ngeri punya na".

Saya meragukan bahwa kebiasaan bercanda mereka saat menjadi mahasiswa tetap sama setelah mencapai puncak karier masing-masing.

Merasa sebagai yang kedua, lalu jika tetap saja cenderung bercanda, tingkat rasa takutnya kemungkinan besar akan berkurang sedikit demi sedikit. Ada pula pemahaman untuk memperhatikan batasan-batasan tubuh karena pertambahan umur serta posisi sosial resmi yang melekat pada setiap individu.

Setelah pindah ke Jakarta pada tahun 1995, meskipun masih menjalankan tugas dari jarak jauh sebagai Sekretaris DPC GMNI Kupang, beta secara praktis sudah jarang lagi mengawasi perkembangan para kadet GMNI angkatan 1995 tersebut.

Meskipun demikian, hampir lima tahun kemudian, dia mendapat informasi yang menyatakan jika Ray sudah dipilih menjadi anggota legislatif di TTU. Bahkan, Ray mampu mencapai jabatan Wakil Ketua DPRD TTU.

Saya benar-benar tak terkejut mendengar tentang kesuksesan Ray dalam kancah politik lokal TTU karena saya sudah menyaksikan potensi bakat kepemimpinannya ketika dia pertama kali mengasah kemampuan di GMNI Kupang.

Pertemuan dengan Asisten Bupati TTU

Loncat kembali ke tahun 2007 dalam sebuah acara seminar nasional untuk merayakan HUT Pancasila tanggal 1 Juni serta Harlah Bung Karno pada 6 Juni, yang diadakan oleh GMNI Cabang Ende.

Adegan tersebut bersinggungan dengan iklim politik usai pemilihan kepala daerah di Kota Kupang dan hanya beberapa minggu sebelum pengambil sumpah jabatan bagi walikota dan wakil walikota yang baru dipilih yaitu Daniel Adoe dan Daniel Hurek (Duadandua).

Pada waktu tersebut, saya yang bertugas sebagai Tenaga Ahli Kemenpora RI di Jakarta berencana untuk datang ke Ende. Saya dipilih undangan oleh pihak GMNI Ende untuk menjadi salah satu pembicara dalam acara mereka.

Agar dapat hadir di Ende, saya berusaha mengajukan permohonan kepada atasan di Kemenpora untuk diberi misi pengawasan terkait proyek Kemenpora di Kupang. Ini bertujuan agar kesempatan pergi ke NTT menjadi lebih mungkin melalui dokumen SPPD dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Masalah bagaimana Kupang dapat dilanjutkan untuk pergi ke Ende adalah sesuatu yang akan kita bahas kemudian. Hal utama sekarang adalah mencapai Kupang dengan aman. Saya selalu percaya bahwa begitu telah sampai di tempat asal, mustahil mengabaikan aspek pendanaannya.

Syukur Alhamdulillah, bantuan dari Allah selalu datang pada waktunya dan tak pernah ketinggalan.

Setelah penugasan pengawasan Kemenpora di Kupang, saya bekerja sama dengan pihak GMNI Ende dan memperoleh kepastian bahwa Wakil Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes juga bakal menghadiri acara tersebut di Ende.

Bahkan, Wakil Gubernur NTT Frans Lebu Raya, yang merupakan salah satu pemimpin utama GMNI di NTT, sudah direncanakan untuk menghadiri dan membuka secara resmi acara seminar GMNI Ende.

Singkatnya, saya memilih untuk tidak "mengganggu" senior Frans terkait penyelesaian masalah teknis di Ende. Kami lalu menerapkan "rencana cadangan".

Setelah melakukan koordinasi dengan "etiket tidak resmi" milik Wakil Bupati Ray, saya menerima kabar baik yang menyatakan bahwa saya diizinkan untuk pergi dari Kupang menuju Ende dan ini semua disponsori oleh Wakil Bupati Ray.

Alhamdulillah, puji kepada Tuhan, masalah teknis yang sangat penting akhirnya terselesaikan. Masalah tersebut berkaitan dengan tiket perjalanan dari Ende ke Kupang. Bagi aktivis seperti saya yang memiliki dompet tipis, hal ini memang sesuai dengan takdir.

Sampai di Ende, saat menyiapkan tahap terakhir untuk penyelenggaraan seminar, saya sempat berbicara dengan pemimpin DPC GMNI Ende yang bernama Bung Vincen Sangu, serta meninggal dunia Wempi Hadir, sebagai perwakilan dari komite penyelenggara.

Sekretaris Bupati TTU sudah masuk ke ruangan tempat acaranya. Saya bertanya dengan nada yang pelan kepada Vincen dan Wempi, apakah Sekretaris Bupati TTU juga akan berbicara pada seminar tersebut. "Bukan Brother Vic, Mas Ray datang cuma buat menguatkan kita para adik-adik saja," demikian kurang lebih jawaban dari Vincen.

Begini Ade, mohon bantu jelaskan ke peserta seminar tentang pergantian daftar pembicara. Sambil tetap mempertahankan susunan acara yang telah direncanakan, cepat temui Pak Ray dan mintalah agar dia bersedia ikut membawakan sesi di podium seminar ini.

Dalam praktik dari segi ideologi moral, jika GMNI di wilayah tertentu menyelenggarakan sebuah acara seperti seminar tersebut, sebaiknya GMNI mencoba memperlihatkan beberapa tokoh alumni yang sudah menjadi pegawai atau pejabat dalam pemerintahan setempat. Hal ini bertujuan untuk membuktikan kepada masyarakat tentang catatan prestasi para kadernya serta kesuksesan program pendidikan mereka di GMNI.

"Memupuk rasa bangga bersama ini pun penting bagi komunitas GMNI sehingga setiap anggotanya terus mendapat dorongan untuk melangkah maju dalam pertempuran idealogis serta belajar dari kesuksesan jalan yang telah ditempuh oleh para tokoh senior mereka," demikian mungkin cara saya menyampaikan masukan tersebut.

Vincen dan Wempi sepakat dan segera mengajukan agar Wabup TTU ikut menjadi pembicara. Alhamdulillah, semuanya berjalan sesuai harapan mereka.

Oleh karena itu, tampillah di atas panggung sebagai pembicara sejumlah figur lokal dari Kabupaten Ende, saya yang bertindak sebagai Tim Asistansi Kemepora RI, serta Wakil Bupati Ray mewakili perwira birokrasi dari TTU.

Beberapa jam setelah sesi diskusi kami dalam seminar itu pada sore hari, tepatnya saat menjelang siang, tiba-tiba muncullah Wagub NTT Frans Leburaya di antara para peserta seminar guna mempersembahkan dan membuka acara yang sudah disusun oleh GMNI Ende.

Saat ini, ketika menulis artikel bertema fitur ini, pikiran beta tertuju pada kejadian lalu; pertemuan kita di "Kota Pancasila" Ende, antara beta, Senior Frans, dan Ade Ray, akhirnya membekukan memori sebagai "pertemuan segitiga" terakhir kali bersama mereka. Kini, Senior Frans dan Ade Ray telah meninggalkan dunia ini. Mereka pergi sangat jauh, takkan kembali lagi.

Berjumpa dengan Bupati Ray di Lokasi Kongres Alumni GMNI

Loncat ke gerak waktu pada tahun 2015. Di sana, baru saja satu bulan kami beserta keluarga tiba kembali di Jakarta. Sempat pada pertengahan Agustus 2015, Ikatan Alumni GMNI mengadakan konferensinya di lokasi Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang ada di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Tahun 2013, dua tahun sebelumnya, ketika beta menyatakan pensiun dari Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, seluruh keluargaku telah kembali ke Manado, Sulawesi Utara untuk menetap. Tetapi, pergantian zaman kemudian membawa perubahan pada arah hidupku sekali lagi.

Seluruh keluargaku perlu kembali ke Jakarta, karena aku menyetujui undangan untuk bergabung sebagai Tenaga Ahli Anggota DPR RI bersama Melchias Markus Mekeng, yang berasal dari Fraksi Partai Golkar.

Di hari pembukaan Kongres PA GMNI, di mana presiden Jokowi membukanya secara resmi, aku datang ke lokasi acara tersebut. Aku bukannya hadir sebagai anggota pengurus PA GMNI karena beberapa tahun sebelumnya aku telah memutuskan untuk mundur dari jabatan dalam kepengurusan pusat organisasi itu.

Saya hadir bukan sebagai peserta konferensi karena memang tidak diundang. Saya datang mewakili alumni GMNI guna menyampaikan penghormatan kepada seluruh teman-teman dari generasi pemimpin bangsa lulusan GMNI, yang tengah bertemu dalam sebuah kesempatan formal terpenting organisasi tersebut.

Pada waktu istirahat setelah upacara pembukaan Kongres PA GMNI, saya sempat bertemu singkat dengan beberapa teman dekat termasuk Bung Niko Frans yang dulunya adalah anggota DPC GMNI Kupang.

Saat mendiang Kak Niko menjabat sebagai Ketua, saya terpilih menjadi Sekretaris DPC GMNI Kupang. Saya bertemu dan bercanda sebentar dengan beberapa junior yang merupakan alumni dari GMNI Kupang sama seperti saya.

Di halaman depan aula Arena PRJ, lokasi acara konvensi, saya dan beberapa teman alumni asal berbagai wilayah di Indonesia duduk-duduk ngobrol santai.

Terdapat sekelompok terdiri dari lima hingga enam individu yang berada di tengah formasi melingkar, dan ikut serta pula Raymundus Sau Fernandes saat itu telah menjabat sebagai Bupati TTU.

Bagi saya, Ray berkata dengan tenang, "Abang siapkan dirimu untuk bertanding kembali dalam pemilihan kepala daerah di Lembata."

Saya sebenarnya sudah ikut bertanding dalam pemilihan kepala daerah di Lembata pada tahun 2011 lalu sebagai calon wakil bupati bersama dengan calon bupati Herman Wutun. Kami berdua didukung oleh partai politik Golkar.

Setelah mendengarkan kata-kata Ray, saya pun menjawab dengan nada yang pelan dan tenang. "Wali Bupati Ray, betapa berharganya perhatian Anda. Namun, keputusan telah ditetapkan bahwa saya tak berniat mencalonkan diri kembali. Saya rasa sudah cukup banyak pembelajaran yang didapat. Sejauh ini tampaknya para alumnus GMNI belum memiliki strategi bersama dalam hal berpolitik secara praktis di NTT. Semoga Wali Bupati Ray dapat melanjutkan kepemimpinan di TTU untuk masa jabatan selanjutnya."

Mendengarkan responsnya, dia pun mengulum senyum kecil sambil berkata perlahan. “Ya Mas, saya dapat memahami posisi yang Mas hadapi.” Pertemuan di area parkir PRJ Kemayoran tersebut, pada akhirnya menjadi kali terakhir saya bertemu dengan "Ade Bupati Ray."

Obrolan Singkat Lewat Telepon Seluler pada tahun 2018

Saya kembali ingat akan sebuah kejadian di pertengahan tahun 2018, kemungkinan besar pada bulan Mei atau Juni, ketika saya masih menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar.

Pernah ada saatnya, saya tengah berkumpul dengan dua teman yaitu Fransiskus Roi Lewar (sekarang sebagai Ketua DPC Partai Solidaritas Indonesia/PSI Kabupaten Flores Timur) serta Mikael Mali (saat ini aktif dalam struktur Pusat Partai Kebangkitan Nusantara/PKN). Kami bertiga sedang menghadapi sesuatu terkait pendirian bisnis skala kecil di kawasan Bogor.

Saat pulang dari Bogor menuju Jakarta, saya menelepon "Ade Bupati Ray" guna menginformasikan niat serta persiapan diri untuk ikut dalam kompetisi pemilihan legislatif sebagai calon anggota DPR dari partai Golkar di daerah pemilihan nomor 2 NTT, yang mencakup pula kawasan Pulau Timor.

Pada waktu tersebut, "Ade Bupati Ray" tampaknya telah meninggalkan PDI-Perjuangan dan terpilih sebagai Ketua DPW Partai NasDem Nusa Tenggara Timur.

Meskipun kita berasal dari partai politik yang berbeda, ikatan perasaan sebagai alumni GMNI Kupang bersama-sama terasa lebih mendalam dalam hati. Ini melebur batasan-batas kepentingan persaingan antara parpol.

Saya sangat yakin bahwa istri dari "Ade Bupati Ray", yang bernama Kristiana Muki, juga berencana untuk ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pusat melalui partai NasDem dalam pemilu tahun 2019. Setelah mendengarkan penjelasan saya, dia merespons dengan nada tegas serta semangat persaudaraan ideologis lewat pesan singkat di telepon genggamnya.

Saya mendukung keinginan Anda. Saya menantikan kedatangan Anda di Kefa. Jika Anda berencana untuk melakukan penurunan konseptualisasi, silakan hubungi saya, kita akan bertemu di Kefa. Nanti kita bisa membahas dan mencari solusi terbaik.

Isi obrolan singkat melalui telepon di pertengahan tahun 2018 tersebut akhirnya belum juga direalisasikan sampai pelaksanaan pemilu legislatif 2019 datang. "Ade Bupati Ray" masih mempertahankan janji persaudaraannya dalam hal ideologi kepada saya.

Namun, nasib sial tetap tidak bisa dielakkan, begitu juga keberuntungan yang sulit didapatkan. Rintangan serta hambatan datang dari pihak saya sendiri.

Kesempatan politik beta untuk berpartisipasi dalam pemilihan legislatif tahun 2019 pada akhirnya hilang seiring dengan dominannya kekuatanintrik internal partai.

Kekacauan yang dipenuhi dengan motif 'homo homini lupus' (setiap orang adalah musuh bagi dirinya sendiri) sepenuhnya dilakukan demi, oleh, dan untuk tujuan belaka dari keuntungan pribadi.

Oleh karena itu, tidak peduli betapa pahitnya rasanya urusan politik, saya masih meninggikan limpahan rasa syukur kepada sang pencipta.

Karena sudah dan akan tetap percaya bahwa setiap rencana Tuhan, sekecil apa pun yang mungkin terasa pahit bagi kita sebagai manusia, pada akhirnya akan menghasilkan kegembiraan dalam hati.

Mengakui Kekuatan Alam, Menyongsong Nasib takdirmudur

Rabu dini hari, tanggal 26 Maret 2025, saya sekilas melihat kabar yang sedang ramai dibicarakan di media sosial. Isinya tentang sebuah kapal yang dipakai oleh mantan Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes menghilang akibat terseret arus lautan.

Antara kesadaran yang semakin kabur karena kelelahan dan sudah dalam posisi bersiap-siap untuk tertidur atau istirahat di malam hari, saya berkata lembut sambil memanjatkan doa: "Ya Tuhan, Engkau Yang Maha Baik, dilailahkan lah Ade Bupati Ray serta semua penumpang kapal yang terseret arus."

Pada hari Kamis sekitar jam pagi, tanggal 27 Maret 2025, saya buru-buru mendampingi istri saya, Deisy Kasenda, yang tinggal di daerah Kabupaten Minahasa Utara, menuju Rumah Sakit Prof Kandou di Malalayang, Kota Manado. Kami pergi ke sana karena dia harus menjalani pemeriksaan rutin tiap bulannya sejak terkena penyakit kurang lebih tiga tahun silam. Alhamdulillah saat ini proses penyembuhan dan pemulihannya sudah berjalan dengan baik meskipun baru-baru ini ia masih melawan penyakitnya tersebut.

Melihat bahwa Beta sedang mengendarai sepeda motor, ia secara tidak langsung menjadi sulit untuk membuka layar media sosial guna memantaunya perkembangan berita serta informasi terkini.

Di area tunggu antrian rumah sakit Kandou, saya langsung merogoh telepon genggam untuk memeriksa laman media sosial. Tampak kedua teman baik itu sedang mencatat status Facebook saya sebagai tanda.

Kedua teman dekat yang seperti saudara tersebut ialah Dion DB Putra, Pendiri Redaksi dari Pos Kupang—yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PMKRI Kupang—anda juga ada Honing Sanny, lulusan GMNI Cabang Jogja yang telah pernah menjadi Anggota Legislatur pusat di gedung DPR/MPR RI Senayan.

Honing dan Ray sebelumnya pernah menjadi bagian dari Partai yang sama, yaitu PDI-Perjuangan. Mereka pada akhirnya juga meninggalkan partai tersebut bersama-sama.

Status Facebook yang dibagikan oleh No "Eja" Dion serta Ama "Eja" Honing membawa kabar sedih tentang kematian mendadak mantan Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes pada hari Kamis tanggal 27 Maret 2025. Beliau diketemui tidak bernyawa karena kecelakaan kapal lampara yang tenggelam di lautan sekitaran Oebubun, desa Oepuah, dalam wilayah Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten TTU.

Tanpa mempedomkan waktu dalam hitungan menit, media sosial langsung ramai dengan status dan tautan berita mengenai kembalinya "Ade Bupati Ray". Saya termangu.

Tepekur diam. Cuma sanggup berdoa dalam hati, mengharapkan keamanan jiwanya bagi "Ade Bupati Ray".

Perasaan campuran antara kesedihan dan ketidakpuasan muncul, berganti-ganti dalam lubuk hati saya. Saya sejenak merundukkan suara kepada istri saya yang sedang duduk mengantre untuk menunggui jadwal pemeriksaan dengan dokter.

Awalnya kita bertemu di GMNI Kupang, beliau adalah seorang bekas bupati Timor Tengah Utara, jadi pergi dan meninggal karena kapal tenggelam," ungkapku dengan logat Manado. Istriku pun diam sejenak kemudian berkata singkat menandakan ia juga merasakan kesedihan yang aku alami. "Ya sudah ya....sayang sekali.

Berdasarkan informasi dari halaman berita Pos Kupang daring, pihak kepolisian di Kabupaten Timor Tengah Utara telah membenarkan bahwa ada delapan penumpang kapal Lampara yang karam. Dari insiden tersebut, tiga individu berhasil diselamatkan, sedangkan lima lainnya diketahui sudah meninggal atau masih belum ditemukan.

Kami semua, terutama penduduk asli TTU di manapun mereka berada, pastinya merasakan kesedihan yang mendalam akibat musibah tenggelamnya kapal Lampara tersebut.

Asap kesedihan terus menggantung di atas tanah TTU, hingga ke ufuk langit Nusa Tenggara Timur.

Tiap individu yang sempat bertemu dengan Raymundus Sau Fernandes benar-benar merasakan kesedihan dan keterkejutan akibat kepindahannya sang almarhum.

Ray merupakan seorang tokoh politik terkenal karena gaya hidupnya yang sederhana dan dekat dengan masyarakat. Selama menjabat sebagai bupati, ia dikenali atas dedikasinya dalam melindungi serta membantu warga desa.

Dia sangat perhatian terhadap masyarakat kurang mampu karena latar belakang keluarganya juga berasal dari kondisi yang serba kekurangan. Bapaknya bekerja sebagai petani skala kecil, sedangkan Ibunya adalah penjaja sayuran di pasaran.

Meskipun Ray telah memimpin TTU dalam dua masa jabatan berturut-turut sebagai bupati, sang ibu masih enggan berhenti dari profesinya sebagai pedagang sayuran di pasar tradisional. Ini benar-benar contoh keberanian sosial yang jarang terjadi dan menyentuh hati orang banyak.

Merujuk pada sosok "Ade Bupati Ray" sebenarnya berarti mengingat kembali ketulusan serta sifat rendah hati dari sang pemimpin tersebut.

Ray merupakan seorang "marhaenis" sejati. Ia sungguh prihatin atas nasib orang-orangan, kelompok yang sering kali diabaikan. Ia amat mencintai para petani, ternak pemilik, dan nelayan beserta golongan buruh marginal.

Ray terkenal sebagai pahlawan bagi para pemikir yang gigih. Dia merupakan seorang politisi yang tidak pernah ingin mundur, apalagi tunduk di bawah hambatan politik yang mencegah pencapaian nilai-nilai politik yang dia percayai.

Ray merupakan sosok nasionalis sederhana yang kehidupannya sesuai dengan prinsip-prinsip marhaenisme dari Bung Karno. Karena itu pula, Ray menjadi seorang yang kukuh dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Saat ini, di penghujung hidupnya, Ray seolah ingin memperlihatkan bahwa dia selalu bertahan dari 1001 ujian dalam kehidupan. Dia tidak pernah bersedia mengakui kalah terhadap 1001 hambatan politik yang mencoba meruntuhkan keyakinannya akan serangkaian prinsip dan nilai-nilai politik yang benar.

Riwayat serta jalannya hidup Ray membuktikan bagi kami semua bahwa dia hanya menyerah pada kekuatan alam semesta, pada daya tarik alami. Kekuatan pergerakan yang alami itu!

Ray hanya terkalahkan oleh kekuatan takdir, atas kemahuan sang Khalik. Dia tetap taat dan kukuh hingga mencapai finishing line, di ujung hayatnya.

Raymundus Sau Fernandes! Di dalam kediaman malam saat ombak lautan menggetarkan jiwanya, serta hembusan angin senja yang menusuk sampai ke tulang membuatnya bungkam, sembari roh Ray melayang tinggi menuju pelukan abadi, berada di hadirat tuhan pencipta alam semesta.

"Sudah kujalani laga dengan baik, sudah kutuntaskan balapan ini sambil meneguhkan keyakinanku." (2 Timotius 4:7)

Nats Alkitab ini cocok untuk menemani perjalanan jiwa "Ade Bupati Ray" menuju ke "Yerusalem Baru".

Assalamualaikum, Kepada Ade Nonâ Kristiana Muki, istri tersayang kepada "Ade Bupati Ray", serta putra-putrinya yang dikasihi di Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dari kami selaku saudara/i dari keluarga jauh di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, mendoakan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa memberikan kekuatan bagi kita semua pada saat-saat sulit seperti sekarang. Terima kasih.

Antara titik-titik air mata yang jatuh saat saya mencatat kesedihan ini, untuk mengenang "Ade Bupati Ray", hati saya tanpa ragu memberikan penghargaan terbesar serta ucapan kepercayaan kepada Tuhan bahwa semua apa yang Allah ciptakan dalam kehidupan masing-masing dari kita adalah benar-benar baik, sangat baik, dan senantiasa baik! (*)

* Viktus Murin , Sekretaris GMNI Kupang pada periode 1993 hingga 1996, kemudian menjadi Sekjen Presidium GMNI dari tahun 1999 sampai 2002. Ia juga pernah bekerja sebagai wartawan di Pos Kupang antara tahun 1992 dan 1995, serta berperan sebagai Tenaga Ahli untuk Menpora Adhyaksa Dault mulai tahun 2004 hingga 2009. Selanjutnya, ia terlibat sebagai Tenaga Ahli bagi Ketua MPR RI Bambang Soesatyo sejak tahun 2019 yang akan bertahan hingga 2024. Saat ini, individu tersebut bermukim di Provinsi Sulawesi Utara, lebih spesifik lagi di kabupaten Minahasa Utara.

Simak terus berita di Google News

Post a Comment

أحدث أقدم